H.S. RONGGOWALUYO

Masa Kecil H.S. Ronggowaluyo


 Kondisi badan H.S. Ronggowaluyo waktu kecil menurut Abah Uyut Anten sebentar-sebentar sakit atau selalu sakit-sakitan, dan terasa sama H.S. Ronggowaluyo setelah ingat masa kecil terasa punya penyakit hampir diseluruh badan, yang paling parah ditangan siku sebelah kiri sampai sekarang masih ada bekas yang besar sebesar uang benggol seperti bekas gigitan anjing bentuk lingkaran dan sangat jelas.

Disuntik dan disuntik ke Karawang digendong sama uyut laki-laki dan diobati terus diobati bukannya sembuh justru membuat sakit dan perih saja, sembuh ga cepat-cepat sembuh, dikaki botolan (benjolan) saat jalan harus jinjit, apalagi kalau nginjak batu kerikil kecil suka menjerit karena linu dan sakit dan keluarlah darah, nauzubillah…..

Besar sedikit kira-kira umur 7 tahunan punya penyakit gondongeun (gondok) sakit pada leher yang mengakibatkan pembengkakan yang lamanya hampir tahunan yang akhirnya pecah dari dagu, kalau minum ampun suka keluar dari dagu karena terjadi kebocoran dibawah dagu yang perihnya luar biasa, sampai tua bekasnya masih ada dan terlihat jelas, bahkan H.S. Ronggowaluyo sering melamun jangan-jangan akan seumur hidup dan bekasnya tidak akan hilang sehingga akan malu seumur hidup. Ketiganya penyakit H.S. Ronggowaluyo yaitu sakit kemaluan karena sering terkena air susu ibu, dana bah uyut Anten yang sering mengobati karena takut ada apa-apa nanti kalau sudah besar.

Karena terlalu banyak dan rupa-rupa penyakit yang dirasakan H.S. Ronggowaluyo orang tua merasa khawatir takut pendek umur akhirnya, oleh karena selalu diterpa oleh berbagai macam penyakit, saat itu keluar kalimat orang tua yang maksudnya nazar (cacarekanan), kalau sudah sembuh dari semua penyakit akan digendong diajak naik kerena dari Stasion (halteu) Kedung Gede Bojong sampai ke Stasion Kereta Api Karawang, yang pada saat itu stasion Kereta Api Karawang bukan yang sekarang namun yang dahulu berada ditengah-tengah kota belakang pabrik padi Bah Yanten yang berdampingan dengan kios (elos) Pasar.

Betul saja itu nazar oleh Abah Uyut Aten dilaksanakan, Bapak (H.S. Ronggowaluyo) digandong ti Pangasinan ke Bojong Kedung Gede, kalau mang Iang disuruh berjalan mengikuti dibelakang, sesampainya di Stasion Bojong kereta api sudah ada lalu masuk kedalam kerena tidak lama kereta berangkat menuju ke arah timur, Bapak memeluk Abah Uyut Aten karena kaget dan merasa pening serta takut kereta terbalik, terlihat rumah-rumah, pepohonan, kampung terlihat bergoyang oleng, seperti yang terbalik, nafas tersengal-sengal karena ketakutan,….

Sesampainya di Stasion Karawang, bapak turun dengan mang Iang, bapak masih dipeluk dan digendong sama Abah Uyut Aten, turun dari kereta dan stasion masuk ke pasar, dipasar baru Bapak H.S. Ronggowaluyo diturunkan oleh abah Uyut, duduk bersama Mang Iang di losmen Warung, Abah Uyut memesan panggang ikan lele dan goreng ikan gabus, kemudian kami bertiga makan dengan lahap sekali sambil Abah Uyut Aten mengikrarkan nazar yang sudah diucapkan “ayeuna geus bukti panadaran teh, mugi ulah ditagih ku alif, ulah ditanya kudewata, pun anak geus cageur tina geringan, hirupna sina prihatin, pait getih pahang tulang, sing lungsur langsar cageur bageur, hirup dina gedena, sing jembar gede bagjana, babari milik rejekina, jeung bisa mawa kajembaran kasakebeh umat ke diahir jaman”.

Setelah beres dari makan dan upacara nadar, dari elos pasar tempat makan, abah uyut ngajak jalan dan sampai di elos pakaian, saat itu sama Abah Uyut dibelikan baju satu stel, sabuk, kopiah, begitu juga Mang Iang sama dibelikan pakaian, padahal saat itu pakaian hanya terbuat dari kain salur tiongkok namun saat itu bagus luar biasa.

Setelah bosan mengelilingi los Pasar Abah Uyut ngajak pulang, akhirnya berangkat pulang menuju Pangasinan, menggunakan jalan penyebrangan dari anjun naik di penyebrangan gempol, tiba di Pasir Panggang, Tegal Luhur, Kedung Hurang, Leuweung Sireum, kearah selatan sampai ke Pangasinan Kidul, sesampainya dirumah disambut sama Ema Uyut Aten Istri lalu diangkat dan dibopong kemudian di angkat-angkat ke atas ditimang sama Ema Uyut Aten, mungkin karena bahagianya melihat anak sudah sehat kembali dengan berpakaian rapi pulang dari pasar karawang.
Sumber: Catatan Pribadi H.S. Ronggowaluyo

#HSRonggowaluyo
#CatatanPribadi
#CatatanRonggowaluyo
#sekeseler
Share on Google Plus
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment