PANGSI DAN IKET


Jika mendengar kata Pangsi pasti akan langsung tertuju pada pakaian yang banyak dipergunakan oleh para orang tua dahulu, Pangsi merupakan pakaian khas Sunda yang memiliki pengertian makna dan pilosofis tersendiri sehingga bagi siapapun yang menggunakan pangsi memiliki aura yang berbeda baik karena pengaruh kejawaraan ataupun karena pemaknaan akan pangsi itu sendiri, pangsi yang identik sering dipakai oleh seseorang yang memiliki ilmu kanuragan atau ilmu bela diri, adapun untuk warna itu vareatif tidak selalu hitam tergantung selera dan keinginan yang menggunakan.

Pangsi jika menurut para orang tua merupakan pelesetan dari pangesi (dalam bahasa sunda) atau isi, jadi siapa pun yang menggunakan baju pangsi sudah lengkap didalam dirinya baik lahiriyah maupun bathiniyahnya, orang tua dahulu dalam setiap pemberian nama pasti memiliki makna termasuk salah satunya nama pangsi sendiri, pangsi merupakan pakaian yang banyak dipakai orang sunda, namun tak sedikit yang memahami hakekat pangsi itu sendiri nengingat ketidakfahaman penafsiran sesungguhnya akan nama pangsi itu sendiri, orang tua dahulu yang menggunakan pangsi benar-benar dalam setiap langkahnya selalu berwudhu (bersuci sebelum sholat), mereka selalu menjaga ucapan, langkah, sikap, prilaku dan etika dalam setiap langkah, pribahasa padi yang semakin berisi semakin merunduk benar-benar diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. 

Pangsi satu kesatuan antara baju dan celana dengan harfiah menutup aurat atau menutup kehormatan diri bagi masing-masing yang menggunakannya, hormat kepada yang usianya lebih atas dan menghargai kepada yang kedudukannya dibawah, namun selain itu pangsi yang menggambarkan pakaian kejawaraan ini sebenarnya pakaian yang mengisaratkan kesederhanaan antar sesama sehingga tidak membedakan mana yang kaya dan mana yang miskin dalam satu kewilayahan sehingga tersirat akan aplikasi nama sajajar dalam tatanan Pajajaran kiwari, pakaian dalam perjalanannya sebenarnya tidak ada yang abadi, selalu ada modifikasi yang disesuaikan dengan jaman, namun pangsi masih terus mengisi ruang pikir manusia karena memiliki makna serta filosofis tersendiri sehingga tak lapuk ditelan jaman.

Istilah pangsi diambil dari kata pangesi, jadi siapapun jaman dahulu yang menggunakan pangsi adalah orang yang linuwih atau sering disebut jawara atau jagoan, pangesi yang dimaksud nerupakan kemampuan yang dimiliki seseorang baik lahir maupun bathin sehingga bisa dijadikan panutan dalam kehidupan sehari-hari, istilah silih asih, silih asah dan silih asuh adalah inti dari sebuah pembelajaran hidup, namun memaknai dan menjalankannya yqng sulit mengingat saat ini tak sedikit orang yang besar pasak dari pada tiang, ketidaktahuannya ditutup oleh ego yang berdampak pada dilematika rasa dengan berujung konflik bathin sehingga berujung pada kebenaran sendiri walau harus menumbulkan konflik karena ulah ketidakfahaman.

Hideung atau hitam adalah sebuah warna yang melambangkan keanggunan, kemakmuran, percaya diri, kuat, maskulin, dramatis, misterius dan ketegasan, namun disisi lain warna hitam juga kerap menggambarkan akan mistis dan kegelapan, bila ditinjau dari filosofis sunda hideung sama dengan hideng atau mengerti serta faham atas apa yang ada, hideng dalam sunda menggambarkan kedewasaan berfikir dan waspada dalam bersikap sehingga antara ucapan dan langkah yang dilakukan tidak bertentangan dengan agama, adat istiadat serta nilai yang ada dimasyarakat, dahulu dengan penerapan kesederhanaan membawa pola fikir yang lebih memiliki makna, dimana setiap apa yang ada benar-benar memiliki petunjuk untuk menjalani hidup dj kehidupan ini, beda dengan hari ini yang segalanya serba instant sehingga mempengaruhi pola pikir yang segalanya ingin serba instant tanpa ingin tahu proses sebenarnya.

Iket atau ikat kepala jika secara telaah para orang tua dahulu memiliki makna mengikat dimana manusia harus bisa mengikat atau menjaga apa yang ada dalam pikirannya sehingga bisa membedakan mana manfaat dan mana yang madharat, menurut para orang tua terdahulu iket bukan hanya hiasan kepala belaka namun iket adalah rumpaka yang memiki makna untuk kehidupan, jika seseorang bisamengendalikan pikiran yang ada dikepalanya maka dia akan selamat dalam hidupnya, jika tidak menjaga pemikiran dan membiarkan pemikiran secara liar maka celakalah dia dalam hidupnya, sesuatu yang yang sederhana jika dimaknai dengan baik pastinya itu bisa bermanfaat, pesan-pesan tersirat dari para orang tua kita terdahulu yang harus dijadikan bahan pembelajaran agar kita tidak terjebak dalam dimensi jaman yang semakin hari semakin melupakan hakekat yang sebenarnya.

Pangsi Hideung adalah sebuah wejangan dimana kita harus mengisi diri kita dengan ilmu pengetahuan supaya kita (hideng) atau faham akan nilai hidup yang sebenarnya supaya kita tidak salah dalam melangkah, dilengkapi dengan iket atau pengikat kepala dimana apa yang kita miliki selalu kita jaga agar tidak kelauar dari koridor agama dan darigama, semoga pangsi bukan hanya dinilai sebuah pakaian namun pemaknaan dan filosofisnya bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, artikel sederhana ini semoga bisa sedikit memberikan gambaran atas apa yang selama ini dipakai oleh para leluhur orang sunda dahulu, pakaian itu pastinya akan selalu mengikuti model namun pemaknaan dari pesan orang tua yang tersirat akan menjadi petunjuk bagi generasi hari ini supaya tidak tersesat dalam langkah.


Share on Google Plus
    Blogger Comment
    Facebook Comment