SENANDUNG KEHIDUPAN


Kehidupan manusia selalu disertai oleh sisi yang berbeda baik secara lahiriyah maupun bathiniyah, kondisi ini yang semestinya benar-benar difahami oleh setiap insan yang terlahir didunia dengan alam fananya, tiga syariat mutlak yang harus dijalani manusia hablumminnalloh, hablumminnas dan hablumminallam adalah harmonisasi yang harus diselaraskan dalam setiap diri manusia dalam mengisi hidup di kehidupan ini, dalam islam manusia merupakan mahluk yang rahmatanlilallamin. Kehidupan merupakan rangkaian perjalanan yang harus dijalani oleh setiap mahluk tuhan ciptakan, liku-liku perjalanan yang dijalani dan dihadapi, setiap langkah pastinya berbeda apa yang terjadi dan yang dirasakan mengingat semua sudah memiliki takdir dan jalan masing-masing.

Melihat kenyataan nyata yang saat ini terjadi dimana manusia sudah tidak bisa lagi membedakan mana manfaat dan mana madharat, kondisi tersebut seperti menggambarkan bahwa dazal sudah hadir dimuka bumi ini, dazal yang banyak diceritakan para ulama yang dikiaskan bermata satu kini telah nampak dalam kehidupan nyata, dimana manusia sudah tak bisa menggunakan matanya dengan baik, dimana sudah tak melihat sisi baik dan buruk, yang dilihat hanya sebuah kepentingan tanpa melihat apa yang akan terjadi dan dampak apa yang akan ditimbulkan dari apa yang diperbuat, mata satu hanyalah sebuah simbol yang harus kita fahami dan telaah dengan seksama mengingat semua yang ada saat ini sebuah tabir yang terselimuti nilai sesungguhnya dan nilai kepentingan dengan rekayasa yang tak nampak, terutama oleh yang tak pernah berpikir akan hakekat hidup dan kehidupan.

Angin mahluk yang tak pernah berharap balas budi dari siapapun, alurnya mengalir menyesuaikan dengan suhu, cuaca dan medan bumi, selalu memberikan nilai apa adanya dalam kehidupan, selalu mengisi ruang dalam setiap mahluk penghuni alam semesta ini, sepoynya memberikan kedamaian dan kenyamanan luar biasa namun kemarahannya akan menjadi gelora tanpa batas, angin adalah ruh dari setiap mahluk, dalam tanah dia ada, dalam api dia ada, dalam air dia ada, semua sangat membutuhkan, ruh pasti dalam diri yang berkolaborasi dengan semua komponen diri sehingga tercipta kesinergian yang mampu menggerakan dan menciptakan perputaran kehidupan di alam fana ini, keihlasan yang tak berharap pamrih adalah hakekat yang harus dijadikan nilai pembelajaran tersirat bagi manusia untuk bekal menjalani kehidupan.

Kehidupan penuh dengan senandung, nyanyian alam, bisik angin, dan lain sebagainya, realita kehudupan saat ini sungguh begitu penuh dengan kenyataan yang jauh dari sesungguhnya, antara nilai sesungguhnya dengan nilai kepentingan sudah jauh panggang dari api, nilai-nilai sesungguhnya harus digerus oleh sebuah kepentingan masa lalu sampai masa kini, sehingga segalanya hanya tabir yang tersisa, senandung kehidupan sedang berangsung sementara hidup manusia tidak ada yang abadi sehingga selalu ada benang merah yang terputus, kenyataan itulah yang mengakibatkan kehilangan arah sampai kehilangan sejarah yang dirasakan oleh bangsa ini, ada pribahasa bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya, bagaimana bangsa ini akan besar kalau sudah kehilangan masa lalu dan sengaja ditutup dengan sebuah kepentingan yang terkonsep dan tertata dengan baik.

Merangkai hakikat tentang sebuah kehidupan tidaklah mudah untuk saat ini, senandung kehidupan harus sinergi dengan senandung alam, gerak langkah harus seiring dengan nurani dan keiklasan, perubahan dari masa ke masa akan terus bergulir seiring waktu yang terus berganti, menurut kata bijak "Sebagian besar orang hidup menjadi orang lain. Pikiran mereka berisi opini dari orang lain. Begitu pula saat mereka meniru hidup orang lain. Bahkan mengutip passion orang lain", secara realita memang betul sehingga seseorang lupa akan jati dirinya, kehidupan tak pernah lepas akan alam dimana tempat manusia menjalani hidup, jika alam ini hancur apa mungkin manusia masih bisa bertahan dan menjalankan kelangsungan hidup, wallahhuallambisawab....
Share on Google Plus
    Blogger Comment
    Facebook Comment