SENANDUNG ALAM


Aku berdiri diatas bumi ciptaan tuhan
Aku pun sama mahluk yang tuhan ciptakan 
Aku selalu dimanfaatkan
Aku selalu dituliskan secara tersurat
Aku selalu memberikan kehidupan untuk manusia
Semua menyepelekan...
Memandangku sebelah mata...


Untaian kalimat akan selalu hadir dalam kesunyian malam, dimana alam akan selalu menyampaikan senandungnya baik suka maupun duka, jerit alam begitu memilukan manakala hutan digunduli dan dibakar, gunung dan bukit dikeruk diambil batu dan tanahnya, mata air diarug dan dikuasai oleh manusia berduit yang tidak punya perasaan, peninggalan sejarah kehidupan dikubur oleh sebuah kepentingan yang berdalih investasi, semua terasa menyesakkan sementara ini manusia butuh bumi sebagai tempat hidup, butuh pohon untuk berteduh dan sirkulasi udara, butuh air untuk minum, butuh gunung untuk keseimbangan alam, namun dilain sisi ada manusia yang hanya mementingkan perutnya sendiri dengan mengorbankan apa yang ada dialam ini untuk dihancurkan.

Mempelajari alquran tersirat bisa dilakukan setiap saat dan disetiap hembusan nafas, apa yang manusia lihat, rasakan dan lakukan merupakan alquran yang wajib dipelajari dan dimaknai, malam  adalah waktu yang tepat untuk mengevaluasi dari rekam yang sudah dilakukan manusia selama proses siang, alam merupakan tempat dimana alquran itu tersimpan, memaknai alam merupakan proses penggalian kehidupan untuk memaknai hidup, alam merupakan simpanan perpustakaan terbesar dan terlengkap yang setiap saat dan waktu bisa menjadi bahan dan referensi bagi siapapun, maka betapa indahnya senandung alam ini untuk kehidupan manusia manakala manusia itu sendiri bisa memaknai alam ini untuk bekal hidup dan menjalani kehidupan.

Alam adalah contoh kongkrit dan pasti dalam memberikan keikhlasan tanpa batas, apa yang alam berikan tidak pernah mengharapkan pamrih kepada siapapun yang menggunakannya, air yang dicemari, gunung yang dihancurkan, hutan ditebang, tanah dikeruk, semunya mengalir begitu saja, namun akibat dari itu semua yang akan merasakan dampaknya manusia itu sendiri, mengingat jika manusia tidak bisa menjaga keseimbangan alam maka alam akan meyeimbangkan dirinya sendiri, senandungnya membuat siapapun merasa nyaman namun dibalik senadung tersebut tersimpan gelora yang setiap saat siap meledak dan menghancurkan seluruh isi bumi.

“Gunung ulah dilebur, Lebak ulah dirusak” 
Sebuah kalimat sederhana dari para leluhur sunda untuk generasi yang akan datang dimana gunung adalah pakunya bumi dan lebak adalah penyangga merupakan satu kesatuan yang harus dijaga dan dipertahankan untuk pertahanan hidup, senandung kalimat yang begitu sederhana namun begitu bermakna ini datangnya dari orang yang notabene-nya tidak sekolah formal dan tidak bergelar (baduy), justru pelaku pengrusakan itu adalah orang-orang yang katanya punya pendidikan tinggi dan punya jabatan serta kekuasaan, ini sungguh sangat disayangkan dimana seharusnya mereka dengan pendidikannya lebih faham akan pentingnya alam dan faham kalau alam ini dihancurkan akibatnya seperti apa? Justru mereka yang dibutakan oleh kepentingan dan menghalalkan segala cara untuk memuluskan kepentingannya demi sebuah pengakuan kekuasaan dan kekayaan pribadi.


Senandung kalimat ini muncul dari lubuk hati atas keprihatinan terhadap kondisi alam saat ini, senandung alam adalah tentang rasa untuk alam dan isinya mengingat manusia tidak mungkin bisa hidup tanpa alam karena apa yang dibutuhkan manusia semuanya tersedia dialam, jika alam ini sudah rusak apa mungkin alam masih bisa memenuhi kebutuhan manusia? hal dasar ini yang seharusnya dimaknai oleh seluruh manusia yang hidup dimuka bumi ini.

Pepeling Jalan Pituduh
Nuduh keun diri cing lirih

Hahalang lugay disingray
Rahayu.....


Share on Google Plus
    Blogger Comment
    Facebook Comment