SUNGAI CIPAMINGKIS

Sungai Cipamingkis Cibarusah, Kabupaten Bekasi

Sungai Cipamingkis yang membentang di Bagian Barat wilayah Provinsi Jawa Barat, menghubungkan empat wilayah yang diantaranya Kabupaten Karawang, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Bogor dan Kabupaten Cianjur, Sungai Cipamingkis yang bermuara ke sungai Cibeet di Desa Wanakerta Kecamatan Telukjambe Barat Kabupaten Karawang, memiliki panjang kurang lebih 170 km, sungai alam yang relatif cukup besar ini merupakan penyumbang air ke Sungai Citarum, kondisi Sungai Cipamingkis saat ini mengalami pengikisan yang diakibatkan abrasi sungai ditambah dengan kondisi wilayah hulu sungai sudah banyak beralih fungsi membuat debit air tak terkendali manakala musim hujan datang.

Melihat kondisi dilapangan kondisi sungai Cipamingkis saat ini butuh perhatian dari semua lapisan, masyarakat, pemerintah, dan pihak terkait seperti PJT dan BBWS, maraknya pertambangan pasir dan batu di sepanjang Sungai Cipamingkis mengakibatkan kerusakan struktur dinding sungai dan ekosistem sungai, kondisi sungai saat ini sudah tidak memiliki tahanan atau kuncian pada pinggiran dinding badan sungai sehingga mengakibatkan mudah abrasi jika air besar, ditambah lagi dengan dibangunnya Kawasan Industri diwilayah sekitar aliran sungai Cipamingkis yaitu di wilayah Kecamatan Serang Baru dan Kecamatan Cikarang Pusat Kabupaten Bekasi berdampak pada penyempitan badan sungai serta menjadi zona akhir pembuangan limbah Kawasan.

Sungai Cipamingkis merupakan salah satu sungai tua yang ada di Pulau Jawa, Cipamingkis memiliki kandungan makna air yang banyak dipergunakan oleh laki-laki, sungai Cipamingkis sudah ada sejak dinasti Ming (1368 - 1644) mengingat pada dinasti itu pemerintahan dengan kondisi stabil dan melakukan ekspansi perdagangan ke penjuru dunia termasuk ke Jawa Dwipa, pada masa itu ada pelabuhan besar di Jawa Barat yang bernama Pelabuahan Candrabagha yang berada dipertemuan dua sungai besar dan berdasar dari analisa Tim Pepeling Karawang Pelabuhan tersebut berada di wilayah Telukjambe Barat.

Sungai Cipamingkis di hulu sungai terdapat air terjun Cipamingkis sungai yang sangat lebar dan berbatu, tepian sungai juga bisa melihat hamparan pemandangan alam, sawah dan perbukitan yang hijau dan indah, disepanjang jalan juga banyak sekali aneka kuliner menyediakan makanan dan minuman untuk pengunjung yang sekedar lewat untuk beristirahat sambil menikmati pemandangan sungai Cipamingkis, Suhu udara di sekitar lokasi curug ini cukup dingin. Bukan sekadar karena temperatur suhu udara di sana yang berkisar antara 19-22 derajat celcius, tetapi juga karena ada “hawa lain” yang begitu terasa melingkupinya.  Sebab, keberadaan sungai Cipamingkis dan Air Terjun Cipamingkis memang tak bisa dilepaskan dari legenda dan mitos.

Berdasar sumber Cipamingkis merupakan tempat pertemuan aliran dua sungai yang melintas Kabupaten Bogor, yaitu Sungai Cipamingkis dan Sungai Cisarua. Konon, dari nama salah satu sungai sumber airnya itulah nama Curug Cipamingkis berasal. Tetapi, ada juga sekelompok masyarakat setempat yang menyebut, Curug Cipamingkis merupakan air terjun pamungkas atau terakhir. Kelompok masyarakat ini meyakini, dari filosofi kata pamungkas itu kemudian menjelma nama Cipamingkis, persepsi dan pendapat pastinya ada dan itu merupakan bagian data yang kemudian dicari supaya tingkat validitasnya lebih akurat.

Daerah Jonggol memiliki pola struktur yang cukup komplek, seluruh batuan sedimen Tersiernya telah terlipat dan tersesarkan. Beberapa struktur sesar yang digambarkan di dalam kedua lembar peta geologi regional tersebut, dapat diamati pula melalui interpretasi citra satelit dan pola pengaliran sungainya. Sungai utama yang mengalir di dalam blok Jonggol, antara lain Sungai Citarum, Sungai Cibeet, Sungai Cipamingkis, Sungai Cikeas, Sungai Cihoe, Sungai Cileungsi, dsb. Sesuai dengan bentuk topografinya, seluruh sungai utama tersebut mengalir dari selatan ke utara. Sungai utama beserta percabangannya membentuk beberapa jenis pola pengaliran, antara lain dendritik, sejajar, rektangular dan radier.

Disebelah selatan Jonggol, ditemukan lipatan seret yang ukurannya relatif besar. Sayap utaranya memiliki kemiringan yang mendekati vertikal yaitu 80°. Walaupun jaalur sesar ini secara morfologi tidak memperlihatkan adanya kelurusan perbukitan namun di sebagian aliran sungai utamanya dijumpai kelokan dan cabang anak sungai yang sejajar dengan jalur sesar tersebut, seperti yang dijumpai di Sungai Cileungsi, Sungai Cipamingkis dan Sungai Cibeet. Berdasarkan pada nama salah satu sungai yang disesarkannya maka dinamakan sebagai Sesar Cipamingkis. Dari hasil analisis disimpulkan bahwa Sesar Cipamingkis adalah sesar naik, yang membentang dengan arah barat-timur mulai dari Cileungsi hingga ke arah timur menuju komplek Pegunungan Sanggabuana. 

Sesar Cipamingkis terletak di bagian utara Antiklin Jatiluhur dengan jarak yang relatif berdekatan. Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa antiklin Jatiluhur memiliki bidang sumbu yang miring ke arah selatan atau bentuk lipatannya condong ke arah utara. Berdasarkan pada geometri lipatan serta “tectonic transport”- nya, maka apabila diikuti oleh pembentukan sesar naik, bidang sesarnya akan miring searah dengan sumbu lipatannya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa bidang Sesar Cipamingkis ini miring ke arah selatan atau blok yang naik (hanging wall) berada di bagian selatan. Selanjutnya dengan mengacu kepada model struktur sesar naik (thrust system) seperti yang dikemukakan oleh Boyer dan Elliote (1982), dapat diklasifikasikan sebagai “forelimb thrust”, yaitu posisi sesar naiknya berada di depan sumbu lipatan yang ditentukan berdasarkan pada “tectonic tranport”. Jarak pergeseran vertikal (throw) tidak diketahui namun sesar ini turut berperan terhadap naiknya formasi batuan sedimen Tersier ke permukaan.

Atas dasar diatas maka sungai Cipamingkis merupakan salah satu sungai yang harus dipertahankan kelestariannya, mengingat jika kelestarian alam terjaga akan menjaga tingkat stabilitas alam dari bencana yang akan melanda, namun jika dibiarkan dari kehancuran maka siap-siap menghadapi bencana karena alam akan mencari keseimbangannya sendiri, Cipamingkis sungai alam yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air bagi masyarakat disepanjang bantarannya terutama dimusim kemarau air Sungai Cipamingkis benar-benar menjadi sumber kebutuhan bagi masyarakat.
Share on Google Plus
    Blogger Comment
    Facebook Comment