DUKA TAK BERUJUNG (Banjir Pangasinan dan Kampek)


Kampung Pangasinan Desa Karangligar Kecamatan Telukjambe Barat Kabupaten Karawang yang langganan banjir jika musim hujan datang ditahun 2018 pada bulan pebruari ini sudah 2 kali banjir dalam 2 hari beturut-turut, air mulai masuk hari selasa pukul 11,00 WIB kemudian surut kembali dan pada rabu pukul 08.00 WIB air sudah datang lagi dengan debit yang lebih besar, hal ini membuat miris karena banjir yang terhitung dari 2007 sampai sekarang belum ada penanganan serius baik Pemerintah Daerah, Provinsi maupun Pemerintah Pusat, janji hanyalah tinggal janji yang disampaikan kepada masyarakat dimana pemerintah berjanji akan menyelesaikan permasalahan ini, namun sampai 2018 belum ada juga solusi yang diberikan untuk masyarakat di kampung Pangasinan.

Kampung Pangasinan dan Kampung Kampek di Desa Karangligar merupakan langganan banjir, hampir setiap tahun banjir selalu dating, namun anehnya sampai saat ini belum ada solusi sama sekali yang dilakukan, Pemerintah hanya melakukan langkah pemberian sumbangan banjir kepada masyarakat tidak berupaya menyelesaikan atau memberikan solusi supaya tidak terjadi banjir, kenyataan ini terjadi semenjak adanya eksploitasi gas alam oleh PT. Pertamina yang sudah hampir 28 tahun, jika melihat dari sejarah dahulu Kampung Pangasinan merupakan lokasi yang dijadikan tempat pengungsian jika cibeet besar dan merendam wilayah Desa Parungsari karena letaknya yang berada disekitar bantaran sungai, namun saat ini terbalik dimana Kampung Pangasinan sudah mencapai ketinggian 3 meter Desa Parungsari baru terkena banjir.

Masyarakat hanya bisa mengelus dada manakala banjir datang, kemana harus mengadu atas apa yang dirasakan selama bertahun-tahun mengalami banjir, PT. Pertamina sendiri yang diduga oleh masyarakat menjadi penyebab terjadinya itu semua justru dianggap korban oleh tim ahli yang melakukan kajian atas penurunan muka tanah di Desa Karangligar dan sekitarnya, masyarakat pangasinan sudah berupaya menyampaikan baik permasalahan maupun keinginan sampai terjadinya banjir di tahun 2018 ini belum mendapatkan apa yang diharapkan, Pemerintah Daerah belum ada upaya maksimal dalam menyelesaikan permasalahan yang ada, Pemerintah selama 11 tahun baru bisa memikirkan indomie sama beras 1 kilogram untuk masyarakat yang terkena banjir, sungguh sangat miris jika merasakan kenyataan yang dialami oleh warga di Kampung Pangasinan dan Kampek ini.

Yang lebih miris jika banjir datang malam hari, warga yang sedang terlelap tidur harus beres-beres karena air datang, hal seperti ini mungkin yang tidak terpikirkan oleh pemerintah selain korban tenaga warga juga harus rela korban barang-barangnya terendam dan bagi warga Pangasinan dan Kampek benar-benar korban perasaan karena tidak ada solusi yang diberikan atas apa yang mereka alami selama ini, di awal tahun 2018 ini 2 kali dalam satu minggu bahkan warga pernah mengalami sampai 18 kali dalam satu tahun, bukankah hal itu sangat tragis !, selama ini warga sangat berharap banyak kepada pemerintah agar ada solusi untuk mereka, namun apa mau dikata warga seakan berharap pada patung-patung berdasi yang saat ini duduk di Pemerintahan.

Masyarakat Kampung Pangasinan tidak pernah khawatir hujan sederas apapun di wilayah Kampung Pangasinan, namun jika hujan terjadi diwilayah hulu sehingga membuat cibeet meluap itu yang masyarakat khawatirkan mengingat Kampung Pangasinan sudah berubah menjadi dataran rendah, pada saat air cibeet meluap air masuk melalui aliran anak sungai Cidawolong, kenyataan ini sudah terjadi tahunan masa sih pemerintah tidak tahu apa yang terjadi dimasyarakat, anak-anak sekolah pada saat air mulai datang pastinya akan membantu orang tuanya beres-beres barang dirumahnya, selain itu juga sekolah yang berada disekitar juga was-was mengingat sekolah SD dan SMP disana selalu terdampak dari banjir yang terjadi selama ini.

Kampung Pangasinan atau sering juga disebut kampung gumbal gembol ini benar-benar terasa bukan termasuk wilayah Kabupaten Karawang mengingat Pemerintah acuh tak acuh melihat kondisi wilayahnya seperti itu, atau jangan-jangan sengaja dibiarkan karena ada kepentingan lain atas wilayah Desa Karangligar dan sekitarnya, 2017 dan 2018 di wilayah Desa Karangligar dan sekitarnya terjadi pembebasan lahan besar-besaran sehingga semakin meyakinkan kenapa Desa Karangligar dibiarkan begitu saja supaya warga tidak betah dan gampang menjual tanah ke biong-biong tanah yang nantinya akan dikuasai oleh pemodal dan menjadikan wilayah tersebut menjadi zona merah bukan zona pertanian lagi.
Share on Google Plus
    Blogger Comment
    Facebook Comment