RANTAI GAIB SUNGAI CIBEET

Rantai Kapal Sungai Cibeet, Dok. Pepeling Karawang

Rantai Sungai Cibeet yang banyak dibicarakan masyarakat bahkan sering juga disebut rantai gaib merupakan cerita yang nyata bersumber dari masyarakat, rantai yang ramai dibicarakan berada di pertemuan Sungai (muara) Cibeet dan Sungai Cipamingkis ternyata memang benar dan bukanlah rantai gaib yang banyak diceritakan masyarakat, rantai tersebut memang dulunya muncul jika air cibeet besar atau dalam keadaan banjir, namun pada tahun 90'an ada sekelompok orang yang menggali keberadaan rantai tersebut yang ternyata memang diujung rantai tersebut ada jangkar kapal, bahkan konon katanya menurut keterangan warga sekitar Mak Ejo (97) ada pangkal atau bandulan rantai yang masih terpendam dan itu berupa emas, sedangkan jangkarnya diambil kemudian rantainya diangkat beramai-ramai oleh masyarakat, rantai yang panjangnya sekitar kurang lebih 40 meter tersebut kemudian diamankan oleh warga, namun ada seseorang yang mengaku paranormal bernama Acim orang Cirebon (tinggal di walahar) yang mengambil dengan alasan mau mengamankannya.

Berdasar informasi dari masyarakat pada saat itu waktu menggembala melihat orang tua yang menyebrangkan kerbau, ia di kenal sebagai Bah Ingkring atau Bah Narmi (Alm) namun Kerbau yang sedang menyebrang sungai pada loncat, Ternyata ada rantai membentang dari ujung ke ujung di Sungai Cibeet, lokasi Rantai Cibeet yang persisna di kampung Parungsela Desa Wanakerta Kecamatan Telukjambe Barat memang sempat ramai dibicarakan masyarakat sebagai rantai gaib namun pembuktian bahwa rantai tersebut bukanlah rantai ghaib membuktikan bahwa di daerah tersebut ada sebuah catatan kehidupan masa lalu yang tidak tertuang dalam catatan sejarah bangsa ini, namun alangkah luar biasanya tempat tersebut sehingga menyimpan sebuah misteri akan sejarahnya, jika dilihat tempat tersebut biasa saja, tempat tersebut hanyalah sebuah pertemuan sungai yang keduanya bermuara ke Sungai Citarum, Kemudian untuk mengenang, atau bisa juga dikatakan sebagai situs warisan kearifan lokal diwilayah tersebut masyarakat setempat membuatkan makam Bah Narmi di dekat pertemuan sungai cibeet dan sungai cipamingkis tak jauh dari letak penemuan Rantai Cibeet.

Selain ditemukannya rantai diwilayah tersebut juga banyak ditemukan benda atau barang-barang yang bernilai sejarah dan kepurbakalaan yang diantaranya masyarakat menemukan arca (tidak diambil dan dikuburkan kemali), guci serta benda lainnya, dan para pelaku yang menemukan benda-benda tersebut sampai tulisan ini dibuat masih ada dan masih hidup, potongan rantai pun masih ada disimpan oleh Mak Ejo sebagai keturunan dari Bah Kedot (Jawara Kampung dahulu disana), potongan rantai yang ada dan tersisa sekitar 1,5 meteran karena rantai yang panjangnya entah dimana rimbanya, butuh waktu untuk mendapatkan data lebih banyak lagi mengenai apa yang ada dan peninggalan mana rantai tersebut?, apakah lokasi Desa Wanakerta adalah bekas Pelabuhan Candrabaga yang menurut para ahli peninggalan Kerajaan Tarumanagara atau Pelabuhan Koying peninggalan pada masa Kerajaan Pajajaran!, kepastiannya butuh waktu untuk melakukan observasi lebih lanjut.

Jika melihat kontur wilayah Desa Wanakerta memungkinkan jika dahulu merupakan tempat bersadarnya kapal mengingat disekelilingnya merupakan perbukitan-perbukitan, keberadaan Rantai Tersebut bisa dijadikan bahan rujukan awal untuk melakukan penelitian selanjutnya untuk membuka tabir masa lalu keberadaan lokasi tersebut, berdasar keterangan nama Wanakerta wilayah tersebut dan sekitarnya disebut Ranto Panjang atau Rante Panjang (Rantai Panjang) hal ini sebenarnya memberikan sedikit gambaran akan keberadaan Rantai yang dimitoskan sebagai Rantai Gaib oleh masyarakat, sesuatu yang menarik untuk terus digali sebelum terkubur oleh kepentingan.

Desa Wanakerta dan Rantai Sungai Cibeetnya mungkin akan tinggal kenangan, mengingat desakan pembangunan yang terus menerus sehingga melupakan bahwa tempat tersebut memiliki nilai masa lalu yang begitu luar biasa, diantara pertemuan Sungai Cibeet dan Sungai Cipamingkis kini telah berdiri kawasan industri GICC (Global Inrernasional Industri Centre) ditambah lagi diwilayah Desa Wanakerta dan Desa Wanasari sudah menjadi ploting Stasiun dan TOD Kereta Cepat, jadi sudah bisa digambarkan bahwa nilai-nilai sejarah yang masih belum tergali akan semakin terkubur lebih dalam lagi, nilai budaya dan nilai kearifan lokal akan hilang tergerus oleh yang namanya kemajuan jaman.


Share on Google Plus
    Blogger Comment
    Facebook Comment