KERETA CEPAT UNTUK KEPENTINGAN PENGUSAHA

Ilustrasi Gambar sumber : Tempo.co

Proyek kereta cepat yang digadang-gadang sebagai program strategis Pemerintah Pusat sebuah polemik yang seharusnya jadi bahan pertimbangan mengingat secara realita dilapangan Pembangunan Kereta Cepat Indonesia Cina untuk siapa, kontroversi program pembangunan yang akan sangat berdampak terhadap tatanan lingkungan, budaya serta kearifan lokal di daerah seharusnya diperhitungkan dengan matang, bukankah pemerintah mendengungkan akan sebuah pendidikan berkarakter namun Pemerintah pula yang menghilangkan karakter bangsa dengan memaksakan pembangunan yang tidak sesuai dengan karakter bangsa.

Melihat kondisi kehidupan masyarakat saat ini dirasa tidak membutuhkan alat transportasi publik seperti kereta cepat, masyarakat cukup jalan yang baik sesuai dengan aturan Perundangan-undangan saja sudah merasa diperhatikan, pembangunan Kereta Cepat Indonesia Cina (KCIC) dari pendanaan saja sumbernya dari pinjaman atau utang kemudian yang menikmatinya mereka para konglomerat karena pembangunan Kereta Cepat sama saja memfasilitasi mereka yang punya uang untuk menguasai negeri ini dan menggusur masyarakat didaerah, kalau spesifiknya mereka yang menikmati masyarakat menanggung utangnya karena pinjaman uang atas nama negara pastinya jadi beban negara dan beban seluruh masyarakat Indonesia.

Jika melihat kebutuhan sarana transportasi publik masyarakat yang saat ini ada kalau hanya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat didaerah, sarana yang ada sudah sudah cukup tinggal perbaikan dan penataan serta dimaksimalkan dengan baik, pembangunan Kereta Cepat Indonesia Cina pastinya akan sangat berdampak terhadap kondisi lingkungan, hanya demi sebuah kepentingan investor pemerintah mengorbankan masyarakat dengan memaksakan program tersebut, masyarakat dipaksa untuk menjual tanah dengan harga rendah, area teknis atau area hijau pertanian di alih fungsikan menjadi sarana pendukung dari pembangunan kereta cepat, dari 250 Ha sawah teknis berubah menjadi TOD kereta cepat maka berapa ton padi yang hilang dari 250 Ha sawah tergusur tersebut.

Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2017 tentang Perubahan atas PP Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Nasional, melihat PP yang dikeluarkan ada sesuatu yang harusnya ditinjau ulang dimana penentuan rencana tata ruang seharusnya  nasional menyesuaikan dengan kondisi didaerah karena yang tau kondisi daerah pastinya daerahnya itu sendiri bukan Pemerintah Pusat yang tidak tau kondisi dilapangan langsung membuat ploting pembangunan, bukankah dalam UU Nomor 32 Tahun 2014 Tentang Pemerintah Daerah dimana Pemerintah Daerah berhak menentukan arah pembangunannya sesuai dengan karakteristik wilayah, sesuai dengan nilai-nilai budaya dan nilai-nilai kearifan lokal didaerahnya masing-masing.

Kereta Api Cepat Indonesia Cina (KCIC) sebuah upaya awal untuk penggundulan alam, sejarah, budaya dan kearifan lokal, merubah kondisional sebuah keadaan wilayah seharusnya benar-benar dipikirkan dengan matang, ketidaksiapan masyarakat seharusnya dipikirkan juga menghadapi percepatan pembangunan sehingga dimana suatu daerah dibangun bisa dinikmati atau dirasakan oleh masyarakat diwilayah tersebut, penggusuran hutan, area pertanian serta penggusuran masyarakat adalah upaya untuk menggeser masyarakat setempat dengan dalih kepentingan Pembangunan Nasional namun didalamnya berisi para pengusaha, sejauh mana peran pemerintah jika kenyataan yang terrjadi seperti itu, bukankah dalam undang-undang dasar 1945 negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk, namun nyatanya negara menjadi dalang dan merampas kemerdekaan masyarakat untuk kepentingan pengusaha.

Pemerintah Pusat harus banyak berkunjung ke daerah supaya bisa bijak dalam menentukan Rencana Kerja Pembangunan itu pun jika arah pemabangunannya mengedepankan kepentingan masyarakat bukan mengedepankan kepentingan pengusaha seperti sekarang ini, kebijakan pemerintah seharusnya semakin atas semakin bijak bukan semakin atas semakin semau gua atau terkesan aji mumpung memegang kekuasaan dimana semaunya menentukan arah kebijakan tanpa melihat nilai manfaat dan nilai madharatnya, masyatakat indonesia hari ini kebutuhan pokoknya masih makan nasi, jika area pertanian terus menerus dikikis pastinya hal tersebut akan menjadikan konflik sosial berkepanjangan dan sungguh ironis negara agraris penghasil beras harus impor beras, harusnya hal tersebut dijadikan bahan evaluasi untuk pemerintah bahwa walaupun bagaimana kebutuhan pokok masyarakat indonesia adalah beras bukan beton atau bangunan bertingkat.

Ratusan bahkan ribuan hektar akan beralih fungsi menjadi jalur dan TOD nya, berapa ton padi dan berapa juta pohon yang hilang serta berapa sumber air habis, itu semua yang jelas-jelas nyata untuk mempertahankan hidup dan untuk kesejahteraan masyarakat akan diganti dengan pohon beton dan bangunan coran, bukankah indonesia bangsa yang kaya akan nilai-nilai budaya, kaya akan sumber daya alam, kaya akan potensi alam, kaya akan nilai kearifan lokalnya, namun kekayaan negeri ini hanyalah mimpi bagi masyarakat namun kekayaan yang dimiliki negeri ini surga bagi para penguasa dan pengusaha karena merekalah yang menikmati kekayaan negeri ini sementara masyarakat dipaksa digusur dari tempat kelahirannya demi sebuah pembangunan.

Membangun negeri ini tidaklah harus menghancurkan alam serta mengusir kehidupan masyarakat dari tempat dimana mereka dilahirkan, tata lah negeri ini dengan nilai dan kelolalah negeri ini dengan karakter sesuai jati diri bangsa, kesejahteraan suatu bangsa tidak bisa diukur dari tingkat pembangunan gedung bertingkat atau disuatu daerah dibangun bandara, kesejahteraan bukan hanya lahiriyah namun masyarakat juga butuh kesejahteraan bathiniyah, apakah sudah terpikirkan oleh para pengelola negeri ini? Kesejahteraan rakyat selama ini hanya dijadikan jualan atau dagangan untuk mengambil hati masyarakat ternyata kenyataannya pemerintah memberi duri kepada masyarakat, masyarakat dipaksa untuk mengikuti keinginan pemerintah dengan cara dipaksa menjual tanah untuk memuluskan kepentingan pengusaha.

Pengelola Pemerintahan harus banyak memahami nilai hidup dan nilai kehidupan, tuhan menciptakan alam ini untuk diwariskan ke generasi selanjutnya bukan mewariskan bencana akibat kehancuran alam, "dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah Amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik" (Surat : al-araf 56),  "dan Syu’aib berkata: “Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan" (Surat Hud ayat 85).
Share on Google Plus
    Blogger Comment
    Facebook Comment