MIMPI ANAK DESA (Part 5)



Mimpi selalu menjadi bagian dalam perjalananku, hembusan nafas manakala mata terpejam membawaku menembus angan dan menembus tirai dimensi yang selama ini tak pernah kuduga dan terpikirkan dalam kehidupan nyata saat ini, mimpiku kali ini aku berada disebuah tempat dengan dengan stuktur tempat putih dengan nilai manfaat begitu tinggi untuk kehidupan manusia, struktur itu adalah sebuah peninggalan masa lalu yang sengaja dibuat sebagai sebuah generator alam yang bisa menghisap dan memompa air dengan alami tanpa menggunakan teknologi saat ini, namun melalui bahan dan system hidrologi perpaduan antara suhu, gaya gravitasi dan siklus kehidupan sehingga semuanya bisa tercipta.

Dalam mimpiku aku berada dalam kerumunan monyet-monyet dengan ciri tertentu dikepalannya, dengan dipimpin oleh mandahong (pipinan monyet yang dituakan) mereka adalah monyet yang senang merusak tanpa berfikir nasib kehidupannya yang akan datang, saat itu aku bertemu dengan seorang sosok orang tua yang begitu tegap dengan pakaian sederhana namun memiliki kharisma begitu luar biasa, dia pun menyampaikan “tempat ini adalah kunci, bisa dilihat dari atas kalau bentuk bentangannya memanjang membentuk satu bentuk kunci, bukan bentangannya yang harus dilihat namun makna kunci yang harus difahami, Ananda harus ingat bahwa dibawah bentangan kinci tersimpan satu simpanan telaga sebagai pendingin generator bumi”. Aku tertegun dan terbengong mendengar cerita dari seorang bapak yang entah siapa namanya.

Sang bapak melanjutkan ceritanya, “Ananda, bangunan ini dulu sempat tenggelam karena arogansi manusia yang merasa jadi pemimpin, merasa hebat, merasa pintar, merasa paling tau yang semuanya tidak pernah dimanfaatkan untuk hal-hal bermanfaat, mereka terlalu mementingkan kepentingan pribadinya dengan mengumpulkan kekayaan, merebut kekuasaan dan menumpuk pembangunan tanpa mentolelir kepentingan kehidupan”. aku termangu dalam untaian kata sang bapak, kata-katanya begitu merasuk dalam sukma dan menggetarkan sanubariku, dengan tenangnya dia menuntunku mengajak melihat seluruh lorong dan ruang yang ada disana, dan semua yang kulihat dalam bentuk aslinya dimana aku diperlihatkan dengan sebuah kemegahan tiada tara, dengan sebuah mahakarya teknologi yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata.

Setelah aku diajak berkeliling diwilayah tersebut, ada terbersit keinginan untuk bertanya tentang monyet-monyet yang aku lihat, sang bapak pun menjelaskan “mereka adalah jelmaan dari masa lalu kalau dalam dunia sekarang mereka adalah manusia-manusia yang seperti kita, mereka senang merusak, mereka senang mengadu domba, mereka senang memanfaatkan orang lain untuk kepentingannya sendiri, maka disini Ananda bisa melihat mereka dengan berwujud monyet”. Jelas sang bapak, “namun monyet sebenarnya tak seburuk itu, karena saat ini monyet adalah salah satu binatang yang sering memberikan gambaran prilaku buruk maka saat ini Ananda diperlihatkan sebuah bentuk nampak seperti itu, bapak berharap Ananda jangan menganggap monyet itu jelek atau buruk, semua karena ulah manusia itu sendiri, coba kalau tempat mereka tidak diganggu atau mereka disediakan lahan atau tempat untuk hidup mungkin mereka pun tidak akan berbuat yang tidak-tidak, karena hari ini mereka sudah bingung tempat hidup”. Lanjut sang bapak memberi penjelasan padaku.

Setelah banyak bercerita sang bapak pun pamit, dia pergi dengan tenang tanpa menoleh sedikitpun ke belakang, dengan tertegun aku merasakan kesedihan tak terkira, namun dalam mimpiku aku mencoba untuk melanjutkan perjalanan, disana ku melihat monyet-monyet yang pernah terlihat berubah menjadi manusia-manusia dengan wajah yang begitu menyeramkan, mereka semua tidak melihatku, aku melihat mereka memakan struktur putih yang ada diwilayah sana dengan ganasnya seolah mereka begitu lapar karena tidak makan beberapa hari.

Penasarannya aku akan cerita sang bapak sehingga aku mencoba melangkah untuk melihat kondisi tempat tersebut, sungguh luar biasa aku melihat sebuah perairan dibawah lapisan putih tersebut dengan relief-relief yang masih tersisa pada dinding yang ada, lorong dan ruang yang kulihat bersama sang bapak ternyata telah menjadi lorong-lorong air yang menghubungkan antara satu dengan yang lainnya, kaget luar biasa apa yang aku lihat dalam mimpiku, sebuah penomena yang begitu luar biasa yang selalu ku alami dalam setiap perjalanan tidurku.
Share on Google Plus
    Blogger Comment
    Facebook Comment