LEUIT (Lumbung Padi)

Leuit (Lumbung Padi), Jawa Barat

Jika melihat sisi wilayah Karawang khususnya Karawang Selatan, yaitu Telukjambe Barat, Pangkalan dan Tegalwaru, kita masih bisa menemukan bangunan rumah panggung kecil dengan tiang-tiang kayu yang kokoh, dinding terbuat dari bilik serta atap dari ijuk, rumbia, atau daun tepus dan ada pula yang beratapkan genting tanah tradisional. Sedangkan ukuran besar kecilnya satu dengan yang lain berbeda, bangunan yang terasa asing tersebut disebut “LEUIT”, tempat/gudang menyimpan padi kering setelah dijemur, sedangkan besar kecil leuit tergantung dari perkiraan banyaknya hasil padi yang dipanen oleh satu rumah tangga.

Rata-rata ukuran leuit : Panjang kurang lebih 3 m, lebar 1,5 m, dan tinggi 1,5/2 m. Ukuran leuit sebesar ini dapat menampung sekitar 250 ikat padi (geugeus/gedeng). Leuit dalam kosa kata Bahasa Sunda artinya adalah Lumbung Padi yaitu sebuah bangunan yang letaknya terpisah dari Imah Gede / Rumah Induk tempat berkumpulnya keluarga atau rumah hunian, sedangkan fungsi dari leuit adalah tempat penyimpanan Padi atau gabah  (Bahasa Sunda) yang memiliki kemampuan tahan cuaca, tahan hama penyakit, dan memiliki sistem tata udara yang baik sehingga Padi kering dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama. Leuit ini merupakan reserve/cadangan stok gabah kering dari masyarakat Sunda yang digunakan hanya untuk keperluan besar seperti membantu tetangga yang kesusahan, dan lainnya.

Dahulu Setiap keluarga memiliki leuit dan jumlah leuit menentukan status sosial ekonomi sebuah keluarga. Semakin banyak leuit, semakin tinggi pula statusnya, selain terdapat leuit yang dimiliki secara individual, terdapat juga leuit yang kepemilikannya komunal. Leuit berfungsi layaknya tabungan pangan. Padi yang disimpan di dalam leuit dapat awet hingga 100 tahun, semakin lama padi disimpan di dalam leuit, semakin berwarna merah dan teksturnya mengeras, lLalu apa artinya semua ini bagi kita? Untuk menjawab pertanyaan ini, maka tulisan ini dibuat, Ternyata filosofi leuit beserta turunan tekhnologinya, perlu mendapatkan perhatian lebih dari kita, minimal untuk diketahui dan seyogyanya segera dilakukan tindakan nyata dari ilmu itu, agar bangsa ini dapat kembali dapat berswasembada beras dan memiliki ketahanan pangan,sehingga dari mulai dengan ketahanan, diharapkan dapat memiliki ketahanan ekonomi, agar kelak dapat sejajar dengan bangsa-bangsa lain.

Diantara hal-hal yang dapat diperoleh dari filosofi leuit dan tekhnologinya adalah sawah dan leuit, perpaduan yang saling melengkapi, leuit merupakan gudang tempat penyimpanan pangan, dia lebih merupakan stock pangan yang dapat digunakan bila terjadi hal-hal yang diluar kewajaran, seperti adanya bencana alam, kemarau berkepanjangan, adanya kenduri desa atau membantu tetangga yang mengalami kesusahan, jadi fungsinya lebih ke masalah social dan antisipasi terhadap masa depan. Sedangkan untuk konsumsi sehari-hari masyarakat tidak menyimpannya di leuit tapi di rumah, sehingga ada pemisahan antara konsumsi harian dengan sesuatu yang akan dikonsumsi untuk masa depan atau bila terjadi hal-hal yang diluar kemungkinan.

Bangunan yang sekilas nampak sederhana ini, ternyata memiliki kaidah-kaidah tekhnologi yang sangat maju, ada kemampuan mengatur sirkulasi udara, sehingga padi yang disimpan mampu bertahan hingga kisaran waktu 100 tahun, ada kemampuan tekhnologi pada leuit hingga tidak ada hama yang masuk, sehingga gabah yang disimpan steril terhadap hama, ada kemampuan tekhnologi sirkulasi terhadap sirkulasi gabah itu sendiri, sehingga ketika gabah dikeluarkan, maka gabah yang keluar adalah gabah yang usianya paling lama/dulu masuk leuit.

Dari point - point diatas, banyak hal yang dapat kita simpulkan, tulisan ini hanya upaya permulaan saja, sedangkan untuk sampai pada konkret korelasinya dengan ketahanan pangan dalam konteks kekinian, diperlukan kajian-kajian yang lebih mendalam lagi, terutama dari pakarnya, dan Indonesia tidak kekurangan pakar-pakar tersebut, masalahnya sekarang, mau atau tidak saja, kita membuat dan melakukan cetak biru ketahanan pangan itu, yang salah satu raw materialnya berdasarkan filosofi dan tekhnologi leuit tadi.

Jika kita membaca referensi tentang leuit atau pernah mendengar dari cerita orang tua yang namanya “Leuit Salawejajar” adalah salah satu konsep dari sistem ketahanan pangan, masyarakat pada waktu itu tidak di perbolehkan untuk menjual padi atau membarter padi dengan apapun karena padi merupakan kebutuhan pokok yang juga merupakan kebutuhan utama untuk hidup, jadi dengan menjual padi sama saja dengan menjual kehidupan dan membiarkan hidupnya sengsara dengan kekurangan pangan, leluhur kita yang banyak disebut ortodok ternyata lebih hebat dalam berfikir dan lebih terkonsep dibandingkan dengan kehidupan saat ini yang katanya lebih modern sehingga melupakan akan nilai-nilai kearifan lokal yang jelas jauh lebih bernilai untuk kehidupan ini.

Hakekat dan pemahan hari ini hanya sebatas melihat sisi modernisasi tanpa melihat nilai-nilai masa lalu yang begitu luar biasa, hari ini kita dipaksa untuk melupakan sejarah sehingga nilai-nilai yang pernah ada dan kebesaran yang dimiliki bangsa dan leluhur kita dibumi ini tertutup untuk generasi yang akan datang sehingga bangsa ini akan lebih mudah dihancurkan manakala masyarakatnya sudah melupakan sejarah, melupakan budaya dan melupakan kearifan local yang ada, padahal nilai-nilai itu adalah kekayaan bangsa yang harus kita jaga dan kita jadikan kebanggaan sebagai warisan tak ternilai.

Share on Google Plus
    Blogger Comment
    Facebook Comment