CIBEET DENGAN KEARIFAN LOKALNYA

Pertemuan Sungai Cibeet dan Sungai Cipamingkis, Photo : Pepeling

Cibeet asal kata cideet dengan filosofis ci asal dari kata sunda cai atau air, deet yang artinya tidak dalam sehingga memunculkan asumsi geografis bahwa cideet merupakan sungai yang tidak dalam atau dangkal sehinga jika dimusim kemarau cibeet bisa dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat disekitarnya, cideet juga memiliki kiasan yang artinya ci yaitu diri dan deet itu dekat, jadi cideet membrikan arti harfiah bahwa adanya kedekatan antara diri kita dengan alam dan lingkungan.

Cibeet memberikan gambaran akan filosis hidup dimana cibeet menghubungkan lima wilayah sehingga kita bisa mewujudkan penerapan hidup dengan berpegangan pada rukun islam dengan pandangan pada lima dasar yaitu Pancasila, kedekatan kehidupan yang digambarkan dengan deet yang pada hakekatnya semua tidak ada yang sulit jika kita mampu membawa dari ini dengan selalu mendekatkan diri kepada sang maha pencipta dan selalu yakin akan apa yang ada pada diri sehingga mampu menjalani diri dengan badattun toyibatun goffururrohim.

Cibeet yang merupakan sungai alam ini banyak mengisahkan cerita rakyat yang sampai saat ini masih diyakini oleh warga sekitar bantaran sungai cibeet, banyak pantangan yang harus dipatuhi di sungai cibeet yang diantaranya :, masyarakat dilarang untuk mencuci seeng (peralatan memasak nasi), mencuci tikar dengan di pukul-pukul di air, mencuci kaki secara langsung dan berbicara sembarangan atau sompral disungai cibeet, pantangan itu masih dipatuhi oleh warga disekitar bantaran karena jika dilanggar suka ada kejadian aneh atau ada sesuatu hal yang menimpa warga yang melanggar pantangan tersebut.

Berdasar informasi warga bahwa pada waktu kondisi lingkungan cibeet masih terjaga banyak keanehan yang terjadi seperti suka ada orang tua atau kakek-kakek tak dikenal tiba-tiba muncul berkunjung ke kampung mereka dengan berpakaian pangsi dan golok panjang dipinggang yang terkadang ngobrol dengan warga  atau singgah di warung untuk sekedar ngopi dan membeli rokok kemudian beliau pamit pulang ke arah sungai cibeet dengan loncat ke sungai cibeet dan menghilang diantara air, setelah orang tua itu pergi uang dari pembayarannya suka berubah menjadi daun ditambah dengan banyaknya cerita-cerita kearifan lokal lainnya sehingga membuat kondisi sungai tetap terjaga kelestariannya.

Terkadang jika ada kemunculan seekor buaya yang dipercaya oleh masyarakat bahwa itu adalah perwujudan dari penunggu sungai cibeet, dan masyarakat menyebutnya panganten. itu adalah sebuah pertanda akan terjadi banjir besar, atau akan ada orang yang meninggal di daerah tersebut, uniknya masyarakat daerah aliran sungai cibeet sangat meyakini jika banjir besar datang mereka akan menyambat (memanggil) Bah Kedot dan jika hal itu mereka lakukan konon keselamatan akan menyertai mereka. Lantas siapakah bah kedot ini ??? Bah kedot adalah salah satu tokoh yang di tuakan semasa hidupnya beliau adalah orang sakti mandraguna yang memiliki kesaktian ilmu buaya dan setelah meninggal dunia ia berubah menjadi buaya dan kemudian menjadi penunggu sungai cibeet. Bah Kedot pun mewasiatkan kepada seluruh keturunannya barang siapa anak cucuku yang mengalami kesulitan di sungai atau dengan sungai cibeet maka panggil nama Bah Kedot, dan sampai hari ini hal itu disakralkan oleh masyarakat sekitar bantaran sungai cibeet.

Bissmillahirrohmannirrohim….
Sampurasun….
Neda ampun nya paralun…
Neda hampura ka nu ngayuga…
Balebat rasa sajeroning raga…
Gelegerna batin sajeroning kalbu…
Neda widi ka gusti nu maha suci…
Neda ridhona ti nu maha kawasa…
Neda widi kanggo bubuka…
Bubuka babad baheula… 

Babad sepuh babad karuhun
Nu ngagelar dialam rasa
Nu nyurup dialam nyata
Nya ku ridhona gusti ka marcapada
Cai agung nu linuhung
Cai mawa sajarah nu linuwih
Kaahengan alam baheula
Nu lawas natrat nepi ka kiwari

Bukti sajati karahayuan nagri
Nagri nu ngababad alas kajayaan
Kajayaan nu kakubur ku robahna alam

Gusti….
Neda widi kaula neda babakti
Babakti ku saestuna hate
Babakti kanggo lemah cai
Nu katandasa ku owahna jaman…
Ahung……, ahung……, ahung…..,
Ampun paralun ka gusti nu maha agung……
Sampurasun……..

Cerita Kearifan Lokal tentang cibeet begitu banyak, cerita ini hanya sebagian kecil dari yang ada, dan cerita itu secara bertahap akan terus diangkat sebagai khasana kekayaan yang dimiliki sungai cibeet.
Share on Google Plus
    Blogger Comment
    Facebook Comment