NEGERI YANG LUPA JATI DIRI

Wajah Pembangunan Karawang, Doc. Pepeling

Indonesia adalah negara yang sangat kaya, kesuburan tanahnya, kekayaan tambangnya, kekayaan lautnya, dan kekayaan lainya yang pastinya akan membuat iri semua negara di dunia, kekayaan alam yang dimiliki negeri ini seyogyanya tidak harus menjadikan masyarakat Indonesia miskin dan harus Impor beras dari Thailand, tidak harus impor sapi dari Australia, bahkan harus impor air jam-jam dari Arab Saudi, dan lain-lainnya. Undang-Undang Dasar 1945 pada pasal 33 ayat 3 menjelaskan “Bumi air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat” sebuah aturan yang begitu jelas yang seharusnya dijadikan pedoman pembangunan tertinggi di negeri ini.

Pernyataan UUD 1945 itu kini hanya sebuah khayalan bagi warga dan masyarakat yang menjadi warga negara Indonesia, coba ditelaah dengan seksama dari kalimat bumi air dan kekayaan alam sebagaian besar dinikmati oleh asing karena aset-aset besar, kekayaan alam (minyak bumi, emas, tembaga, batu bara, dll) semua telah dikuasai oleh asing, lalu apa yang dimiliki oleh negeri ini ? apa tujuan undang-undang sudah terwujud bahwa semuanya untuk kemakmuran rakyat, miris dimana area pertanian semakin terkikis, area kebun semakin tergerus, area hutan semakin habis, sementara masyarakat dipaksakan harus beralih ke sektor indrustri yang secara nyata bukan bidang selama ini dikuasai oleh masyarakat.

Dilema negeri saat ini begitu nampak, dimana kesenjangan sosial begitu jelas diantara pembangunan begitu membabi buta nampak juga yang kaya semakin berkuasa dan yang lemah semakin tertindas, diantara gelora peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) nampak gerusan dan pengaruh untuk mengikis nilai-nilai yang dimiliki bangsa ini, diantara kemajuan teknologi yang mulai menapak nampak pula pengaruh bahwa bangsa ini telah lupa diri, lupa akan nilai-nilai budaya, lupa akan nilai-nilai sejarah, lupa akan nilai-nilai kearifan lokal dan lupa pula akan makna negeri ini yang seutuhnya.

Masyarakat saat ini dipaksakan untuk taat aturan, namun apakah mereka yang punya kekuasaan dan punya uang sama seperti itu, ini gambaran sederhana yang bisa dilihat nyata kondisi negeri ini, masyarakat dibius dengan kata-kata kesejahteraan rakyat, nyatanya yang sejahtera mereka para pemiliki perusahaan yang dibangun di negeri ini, para pejabat dan penguasa negeri ini mereka bahu membahu memperkaya diri tanpa melihat nilai dan sisi histori negeri ini, mereka seolah paham jati diri bangsa yang padahal otaknya sudah dicuci oleh nafsu kepentingan untuk memperkaya diri sehingga semua cara dihalalkan untuk memuluskan kepentingannya.

Sekarang negeri ini sedang disibukan dengan persolan agama dan persoalan ras, esok lusa apa lagi yang akan menyibukan negeri ini, semuanya akan balik pada sebuah kepentingan dimana ulama dengan umaroh akan terus saling jelekan, pemimpin dengan rakyatnya tidak saling percaya karena hasutan, apa yang didapatkan oleh negeri ini dengan seperti itu ? pada dasarnya semua kembali kepada manusianya itu sendiri, jika kita bisa memahami hakekat hidup ini apa yang akan diperebutkan dan dijadikan sebuah pergolakan sosial, semuanya karena kepentingannya masing-masing dengan keegoisan yang secara nyata dipengaruhi hawa nafsu.

Pengisi negeri ini kini sudah tidak bangga lagi akan tempat kelahirannya, kecintaan terhadap negeri hanya sebatas lisan apabila di iming-iming uang gampang berubah, nurani sudah tidak lagi berfungsi dan rasa sudah tidak lagi berguna karena semua terkikis oleh tahta dan harta yang telah membelenggu pikiran dan langkah sehingga sudah tidak lagi bisa melihat mana nilai madharat dan mana nilai manfaat, Jati diri bangsa adalah ciri pasti sebagai karakter negeri yang seharusnya bisa diusung dan menjadi pedoman langkah pembangunan, keanekaragaman adalah anugrah negeri ini yang harus menjadi kebanggaan dan nilai tak terukur untuk membawa negeri ini menjadi negeri yang punya jati diri.

Penomena-penomena alam kini sudah mulai nampak dan memberikan gambaran akan sebuah kebesaran negeri ini, negeri yang selama ini di selimuti kabut kepentingan sehingga dengan sengaja negeri ini di desain untuk menjadi negeri yang terus dibawah bayang-bayang pengaruh asing supaya negeri ini terus ketergantungan dan tidak bisa menjadi negeri yang mandiri, mandiri akan mengolah kekayaan alam, mandiri dalam menentukan arah pembangunan, mandiri dalam membangun generasi muda, mandiri dalam segala hal dengan tetap mempertahankan nilai-nilai karakter yang dimiliki diseluruh wilayah yang ada, hari ini apa yang bisa dilihat dan dibanggakan akan negeri tercinta ini, menyedihkan negeri yang begitu kaya dengan tingkat kemiskinan tinggi.

Tidak sedikit orang yang mengerti dan paham akan negeri ini, tak sedikit orang yang mampu berfikir untuk membawa negeri ini lebih baik, namun tak sedikit pula orang-orang yang mengerti dan punya niat untuk memperbaiki dan membangun negeri harus terpatri oleh kepentingan pribadi bahkan jika ada yang seperti itu dianggap duri sehingga tidak mampu mengimplentasi diri untuk berbakti pada negeri ini, orang baik dan orang jujur saat ini sepertinya begitu minoritas, tak sedikit orang baik dan jujur dijauhi karena harus mengikuti keinginan para petinggi, tak sedikit pula orang pintar yang terdampar karena persaingan yang tak wajar yang pasti akan berujung ketidakwajaran dan kehancuran.

Indonesia negeri yang begitu kaya raya dengan segala sumber dayanya, kalimat lagu “tongkat kayu dan batu jadi tanaman” kini sepertinya harus berganti “tiang beton dan coran jadi bangunan” tempat untuk menancapkan pohon dan lainnya telah beralih fungsi menjadi bangunan sehingga secara tidak sadar bahwa semua kebutuhan hidup ini berawal dari alam, namun hari ini manusia seolah lupa akan sebuah hakekat hidup dimana manusia diciptakan dari tanah, maka secara nyata manusia hidup tidak bisa lepas dari tanah dan seisinya, namun jika tidak menyadari semua itu bukan tidak mungkin bumi ini sudah dekat karena alam susah bernafas tertutup beton dan bangunan coran.

Waktu yang terus bergulir membawa pola fikir untuk bisa menapak dan memahami sebuah nilai kehidupan, sumber daya alam ini jika terus digerus dan dikeruk pastinya suatu hari akan habis, sehebat apapun manusia tidak mungkin bisa mengembalikan dari telah hancurnya sumber daya alam ini, manusia hanya bisa berbicara terutama yang berkedudukan dan bergelar kalau bicara pastinya merasa paling hebat dan paling menegerti namun untuk mengembalikan alam yang rusak ini belum tentu bisa, teori itu adalah olah fokir manusia yang tidak selayaknya dipercaya seratus persen, hanya sebagai pandangan dan panduan awal untuk mendapatkan kebenaran yang mutlak.

Pemikiran otak manusia saat ini benar-benar sudah dipengaruhi oleh kepentingan, kekuatan masa dijadikan sebagai bukti bahwa dirinya hebat, statemen bermunculan seolah paling benar yang pada ujungnya hanya untuk meraup keuntungan belaka, ini bukti dari pengisi negeri yang tidak punya jati diri sehingga semuanya menjadi virus pada pengisinya, sungguh sangat disayangkan karena negeri yang teramat kaya ini harus diporak porandakan oleh sebuah sistematika kehidupan yang sudah didesain oleh kepentingan manusia, kebenaran sengaja ditutupi dengan memunculkan sebuah pembenaran dari kepentingan untuk menutupi semuanya dan mencuci otak penghuni negeri ini.

Jati diri menurut Referensi: http://kamusbahasaindonesia.org memiliki arti ciri-ciri, gambaran, atau keadaan khusus seseorang atau suatu benda; identitas; (2) inti, jiwa, semangat, dan daya gerak dr dalam; spiritualitas: mencari diri pembangunan nasional, secara harfiah bisa diterjemahkan Jati merupakan sebuah gambaran pohon yang kuat yang banyak dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia, Diri merupakan wujud dari seluruh komponen tubuh manusia, Jati Diri merupakan sebuah karakter kekuatan hidup yang dimiliki oleh manusia dengan selalu melihat sisi manfaat, namun ujung dari manusia yang sudah mengetahui Jati diri adalah sebuah marifattulloh, manusia hanya berupaya dan melangkah mengalir mengikuti arus kehidupan yang sebenarnya bukan yang buat atas dasar sebuah kepentingan.

Negeri ini akan begitu berwibawa jika bisa mengemas dan menjadikan budaya sebagai karakter bangsa, negeri ini akan disegani dengan kekuatan mempertahankan dan mengelola kekayaan alamnya sendiri untuk kepentingan rakyatnya, negeri ini akan berkarakter kalau bisa menjaga nilai-nilai budi pekerti dan tidak menghalalkan segala cara, negeri ini tidba’datuntoyibatungofurrurrohim jika pengisinya sudah bisa mensinergikan hablumminnalloh, hablumminnanas dan hablumminalallam.
ak harus menjadi negara kuat jika kekuatan rakyatnya tidak terpecah belah oleh yang berkepentingan, negeri ini akan menjadi surge jika pembangunannya benar-benar tepat sasaran, negeri ini akan gemah ripah loh jinawi jika ulama dengan umaroh sudah menjadi satu kesatuan, maka negeri ini akan mencapai negeri yang
Share on Google Plus
    Blogger Comment
    Facebook Comment