KAMPUNG PASIR KUDA KARAWANG

Pesona Kampung Pasir Kuda Karawang, Photo : Pepeling Karawang

Pasir kuda adalah nama sebuah kampung yang berada diselatan Kabupaten Karawang yang tepatnya berada di Desa Medalsari Kecamatan Pangkalan, nama pasir kuda berasal dari kata pasir (Bahasa Sunda) yang artinya bukit atau perbukitan dan kuda adalah binatang yang sering dipergunakan sebagai tunggangan dan juga binatang untuk membantu manusia beraktifitas, namun nama pasir kuda diambil dari sebuah mitosnya suka ada suara kuda dimalam hari namun menurut keterangan warga bahwa dahulu daerah pasir kuda merupakan wilayah yang banyak kandang kuda.

Kampung Pasir Kuda dengan kesederhanaan warganya merupakan salah satu wilayah yang menjadi basis perjuangan karena ada salah satu tokoh perjuangan yang bernama abah Janggot atau bah Jangkung yang dilanjutkan oleh bah Ajan salah satu tokoh yang menempati awal lagi wilayah tersebut yang memiliki kandang kuda diwilayah tersebut, kehidupan masyarakat yang rata-rata mata pencahariannya bertani dan 90% rumah masih rumah panggung (Rumah adat sunda) membuat terasa begitu nyaman barada di Kampung Pasir Kuda.

Wilayah yang mungkin banyak orang tidak tahu namun memiliki nilai sejarah yang begitu luar biasa ini banyak ditemukan artefak keramik kuno di abad ke 15, di kampung pasir kuda yang tidak jauh dari pertemuan sungai cibeet dan sungai ciherang (sekarang disebut sungai ciomas) pernah ada kehidupan namun sempat ditinggalkan karena berbagai hal baik itu karena bencana atau karena adanya pergeseran penduduk karena faktor keamanan dimasa peperangan, wilayah pasir kuda juga bagian tempat di era DI/TII konflik dengan BR (Barisan Rakyat) serta dengan kolonial belanda yang sempat menguasai wilayah pangkalan saat itu.

Jika melihat kontur wilayah dan tinjau dari kondisi letak kampung pasir kuda merupakan salah satu wilayah dari peninggalan Pajajaran mengingat sruktur kondisi yang ada serta adanya mata air awisan (mata air yang tak pernah surut walau kemarau panjang) yang sekarang disebut mata air cikahuripan, selain itu juga tidak jauh dari Kampung Pasir Kuda ada wilayah yang sering didengar yaitu wilayah leuit salawe jajar yang begitu kental dengan kerajaan Pajajaran.

Namun disisi lain wilayah tersebut merupakan bagian dari wilayah lingkar sanggabuana karena tidak jauh dari lokasi tersebut ditemukan juga batu telapak kaki dialiran sungai ciherang (ciomas), jika merujuk pada catatan para ahli sejarah prasasti batu telapak kaki adalah peninggalan dari kerajaan Tarumanagara, secara lengkap bisa dilakukan penelitian para ahli bahwa wilayah pasir kuda dan sekitarnya memiliki nilai sejarah atau tidak bisa dilakukan oleh para ahli, namun menurut tim Pepeling Karawang Kampung Pasir Kuda dan sekitarnya bisa dijadikan menjadi kampung peradaban dengan data yang ditemukan serta letak wilayah yang begitu strategis sebagai sebuah peradaban masa lalu yang pernah ada di Kabupaten Karawang.

Saat ini masyarakat begitu diresahkan dengan adanya Pertamina yang akan mengexploitasi kekayaan alam diwilayah mereka, karena melihat banyak contoh yang ada dimana kekayaan alam diexploitasi sementara masyarakatnya dibiarkan terlantar dan tidak diperhatikan, salah satu perusahaan BUMN PT. Pertamina sudah membidik wilayah tersebut untuk pengambil kekayaan gas alam yang ada diwilayah Pasir Kuda, walaupun saat ini belum melakukan oprasi namun dampak dari pembukaannya sudah terasa oleh masyarakat, dimana sawah masyarakat yang sebelumnya tidak pernah kebanjiran sekarang kebanjiran karena drainase jalan yang kecil akibat pembukaan area.

Lakasi yang begitu potensial dan letak yang begitu strategis dengan panorama alamnya yang begitu indah jika dikemas dengan baik akan menjadikan aset berharga untuk Kabupaten Karawang ini sangat terkendala dengan kondisi jalan yang tidak terperhatikan, bahkan masyarakat disana mengeluh seperti dianak tirikan oleh Pemerintah Kabupaten Karawang, Kampung Pasir kuda yang berbatasan langsung dengan wilayah Bogor ini sangat membutuhkan perhatian dari Pemerintah Daerah mengingat jika dimusim hujan jalan akses masuk seperti jalanan kerbau yang sulit dilintasi kendaraan.

Tuhan telah mencipakan segalanya untuk manusia, tinggal bagaimana manusia itu sendiri mengemas dan memanfaatkannya, potensi yang ada tinggal ditata dan dikelola sesuai dengan jati diri masing-masing wilayah maka akan tercipta sesuatu yang luar biasa untuk dijadikan sumber pemasukan untuk masyarakat dan Pemerintah Daerah, membangun suatu wilayah tidaklah harus dihancurkan alamnya namun dengan polesan kelestarian akan menjadikan masyarakat mandiri dengan tetap mempertahankan jati diri sehingga akan menjadikan karawang menjadi wilayah yang badatun toyibatun gofururrohim.

Share on Google Plus
    Blogger Comment
    Facebook Comment