DUKA HUTAN MANGROVE CIKIONG KARAWANG

Hutan Mangrove Cikiong Karawang, Doc. Pepeling Karawang

Hutan mangrove yang seharusnya memiliki fungsi mengendapkan lumpur di akar-akar pohon bakau sehingga dapat mencegah terjadinya intrusi air laut ke daratan dan selain itu juga fungsi hutan mangrove sebagai filter untuk menyerap atau menetralisir air laut yang kini semuanya hanya mimpi di Kabupaten Karawang, hutan mangrove mulai tergusur oleh berbagai kepentingan sehingga area hutan mangrove yang ada kini telah berubah fungsi menjadi ribuan hektar tambak.

Luas hutan mangrove/bakau Kabupaten Karawang yang dikelola oleh Perum Perhutani BKPH Cikiong Karawang seluas 7.480Ha, hutan mangrove cikiong yang dulu pernah didaulat sebagai hutan mangrove terbesar se Asia kini nasibnya begitu miris dan sudah sangat kritis karena telah berubah menjadi area tambak sehingga telah merubah fungsi hutan mangrove yang ada, dan berdasar informasi yang didapat oleh Tim Pepeling Karawang berubahnya hutan mangrove menjadi tambak karena disewa kelolakan oleh oknum petugas Perhutani diwilayah tersebut dengan kisaran harga vareatif berdasarkan luasan lokasi yang dipakai untuk tambak.

Hutan Mangrove Cikiong yang berada di Desa Sedari Kecamatan Cibuaya Kabupaten Karawang memiliki luas wilayah ribuah hektar yang jika dilihat saat ini hanya sekitar puluhan hektar saja, sungguh miris sekali nasib Hutan Mangrove Cikiong karena jika dilihat di pinggiran jalan Nampak masih ada deretan pohon mangrove, namun jika dilihat ke dalam atau dari atas di dalamnya sudah habis berubah menjadi hamparan tambak yang sebelumnya adalah hamparan hutan mangrove, fakta itu bisa dilihat langsung ke lapangan dimana hutan mangrove yang masih tersisa hanya disekitaran monument peresmian, diluar itu semua telah menjadi area tambak. 

Kawasan Hutan Mangrove Cikiong diresmikan pada tanggal 18 Oktober 1991 oleh Presiden Soeharto ini jika di biarkan mungkin suatu hari hanya akan menjadi kenangan bagi Kabupaten Karawang, dari hasil obserasi yang dilakukan Tim Pepeling bahwa penggarap dikenakan biaya sewa tiap tahunnya dengan harga disesuaikan dengan luas lahan yang ada, salah satu petani (Nama Rahasia) tambak menuturkan bahwa dia menggarap dengan membayar kepada oknum petugas Perhutani sebesar 1.600.000/Tahun, itu juga tergantung dari bersih atau tidak dari pohon mangrove jika lahan tersebut bersih dari pohon mangrove harganya lebih tinggi.

Duka Hutan Mangrove Cikiong ini pastinya suatu hari akan sangat berdampak bagi wilayah Kabupaten Karawang, saat ini kondisi pesisir pantai Kabupaten Karawang sedang mengalami abrasi yang cukup mengkhawatirkan karena diakibatkan oleh meningkatnya permukaan air laut sehingga mengikis beberapa wilayah di pesisir pantai Karawang kini telah tidak ada dan berubah menjadi lautan, Pemerintah seharusnya tidak tinggal diam melihat kondisi yang terjadi saat ini, hutan mangrove Karawang yang seharusnya menjadi icon hutan mangrove di Indonesia kini telah terkikis ditelan oknum yang hanya mementingkan perutnya sendiri.

Ada terbesit pertanyaan kenapa hutan mangrove Karawang nasibnya bisa seperti itu dan apakah tidak pernah ada pengawasan serta sejauh mana tanggung jawab atas pengelolaan hutan mangrove tersebut sehingga kondisinya kini hancur ?? Pemerintah sepantasnya bertindak tegas bukan menjadi penonton dari kondisi hancurnya hutan mangrove cikiong saat ini, pengelolaan yang selalu disalah tafsirkan berdampak pada hancurnya benteng alam untuk Kabupaten Karawang, mengingat hutan mangrove cikiong adalah beteng alam dari tergerusnya alam Karawang yang diakibatkan gerusan air laut berkelanjutan, namun kini hutan mangrove cikiong hanya tinggal kenangan.

Bijaklah dalam melihat, mengingat hutan adalah paru-parunya bumi ini, jika hutan terus dibabat dan dialih fungsikan maka sama dengan kita membunuh diri kita sendiri, hutan mangrove yang juga merupakan tempatnya ekosistem kehidupan satwa dan lainya pastinya peranannya jangan dianggap sepele, jika kita menjaga dan merawat alam ini maka alampun pastinya akan menjaga kita semua, maka akan tercipta simbiosis mutualisme antara manusia dengan alam ini.
Share on Google Plus
    Blogger Comment
    Facebook Comment